SELAMAT DATANG DI BLOG FARM LELE SANGKURIANG DRAMAGA

MAAF UNTUK SEMENTARA LELE OFF DULU

animasi

Senin, 17 Januari 2011

Salai Ikan LELE Jadi Komoditi Ekspor Di SumBar

Masyarakat Sumatera Barat sejak lama mengenal ikan salai, yaitu ikan yang dikeringkan lewat proses pengasapan. lkan salai cukup diminati, selain bergizi, rasanya juga lebih gurih dibanding ikan-ikan biasa. Hampir semua jenis ikan dapat dibuat salai, tetapi yang paling disukai adalah salai ikan lele. Salah satu pembuat salai ikan lele di Sumatera Barat adalah Desfialti, dengan bendera CV. D.A. PABATA (Doa Amak Pambangkik Batang Tarandam) artinya “Karena Doa Ibu Bisa Mengangkat Kehidupan Yang Lebih baik”. Lajang Sarjana Perikanan yang sampai saat ini bekerja sebagai Asisten Luar Biasa di Laboratorium Biologi Universitas Bung Hatta mulai menggeluti usaha salai ikan pada 1989 dengan modal Rp 200.000,- untuk membeli pelet (makanan ikan) 50 kg dan bibit ikan lele 1.500 ekor.


Desfiaiti yang akrab disapa bu Efi, mendirikan usaha salai lele (limbek) ini untuk melestarikan makanan khas desa Palembayan yang makin jarang. Salai ikan lele ini memanfaatkan potensi ikan di Sumbar, sekaligus untuk menggerakkan para wanita nelayan & pengolah ikan di pantai Kota Padang, Pariaman, Agam dan Pasaman Barat. Soal harga jual ada dua macam, salai lele mentah (packing) seberat 300 gram dengan harga Rp 30.000, dan salai siap saji (packing) seberat 200 gram harga Rp 30.000.

Teknologi tradisional,

Pembuatan salai lele masih memakai alat tradisional, hanya proses pengasapannya memakai oven. Pertama-tama ikan lele disortir, kemudian dibelah sehingga berbentuk melebar, dibuang insang dan isi perutnya, lantas dicuci dan ditiriskan, diberi bumbu dan didiamkan selama 15 menit agar bumbu meresap. Ikan lele diletakkan secara teratur di atas alat terai yang terdapat didalam oven pengasap, dilanjutkan ke proses pengasapan selama ± 2 hari jam kerja dengan api kecil sampai lele kering dengan merata. Kemudian lele dikeluarkan dari oven dan dianginkan pada suhu kamar, setelah salai lele dingin lalu dikemas dengan menggunakan kantong plastik polyethylene dan karton dupleks yang sudah diprinting. Proses pembuatan salai lele siap saji, dan saiai lele mentah sama. Bedanya untuk salai siap saji dilanjutkan ke proses penggorengan dan pemberian bumbu. Sementara untuk limbah lele yang berupa insang dan isi perut dimanfaatkan sebagai makanan ikan dengan niiai jual Rp 1.500 per kg.

Pasar prospektif,

Dengan melihat potensi ikan yang cukup melimpah di Sumatera Barat, usaha pengolahan ikan seperti salai ini cukup prospektif. Salai lele Desfialti, kini pasar-nya tidak hanya di wilayah Sumbar saja, tetapi sudah merambah ke Pekan Baru, Jambi, Batam, Tanjung Pinang, Jakarta dan bahkan ekspor ke Malaysia dan sudah berjalan selama 3 tahun. Upaya untuk meningkatkan pemasaran, Desfialti sudah melakukan beberapa perubahan. Selain diversifikasi produk, adalah melakukan perbaikan kemasan dari kantong plastik PE ke Aluminium Foil. Begitu pula masalah desain lebih disempurnakan. Kegiatan promosi yang hampir tidak pernah di lewatkan oleh Desfiaiti adalah mengikuti pameran baik di dalam negeri maupun luar negeri. Misalnya pernah ikut pameran, Pesta Penang di Malaysia tahun 2005. Sedang untuk meningkatkan kemampuan SDM, Desfialti mengikuti berbagai jenis pelatihan teknis pengolahan ikan, manajemen, pemasaran, sistem mutu, kemasan dan lainnya. Pengetahuan dan keterampilan yang didapatkan selain diterapkan pada usahanya juga disebar luaskan kepada perajin iainnya sehingga industri sejenis dapat berkembang dengan cepat Disamping itu untuk menjaga produk agar aman dikonsumsi Pabata menerapkan GMP dan sudah bersertifikat halal.

Memberdayakan masyarakat,

Pengolahan salai lele yang dikelola oleh Desfialti melibatkan masyarakat sekitar tempat usaha. Sekitar 177 kepala keluarga dianjurkan untuk beternak lele dan hasil panennya dibeli. Upaya lainnya adalah memberdayakan GWNPI (Gabungan Wanita Nelayan dan Pengolah Ikan) yaitu masyarakat yang tersebar dipesisir pantai Kota Padang, Pariaman, Agam dan Pasaman Barat, terbentuk dalam 3 kelompok yang memproduksi surimi sebagai bahan baku untuk pembuatan nugget ikan dan kerupuk ikan. Untuk meningkatkan keterampilan para anggota GWNPl, telah didatangkan instruktur dari DKP (Departemen Kelautan dan Perikanan) dengan biaya Swadana atas gagasan Desfialti. jerih payah dan perjuangan Desfialti membina dan mengembangkan industri kecil ikan salai diakui oleh Pemerintah Provinsi Sumbar, dengan diberikan penghargaan antara lain sebagai 1) Pemuda Pelopor Tk 11 Kotamadya Padang Tahun 1998, Bidang Kepeloporan: Pembangunan Industri Pedesaan (Ikan Salai)” dari Walikota Padang 2). “Pengusaha Kecil Berprestasi I tahun 1999 Sektor Industri Pertanian” dari Kakanwil Depkop Pengusaha Kecil dan Menengah Provinsi Sumbar 3). “Pengusaha Kecil Berprestasi Tahun 2000″ dari Meneg Koperasi dan Pengusaha Kecil Menengah RI dan 4). “Pengusaha Kecil dan Menengah Berprestasi Tahun 2002 Tk. Kota Padang” dari Walikota Padang.

Tujuh kendala,

Namun dalam kenyataannya selama ini usaha Desfiati menghadapi beberapa kendala, yang paling sering dialami antara lain, pertama pada musim kemarau panjang lele sulit didapatkan sehingga produksi terhenti. Hal ini bukan saja berdampak pada usaha Desfialti tetapi juga terhadap 177 KK sebagai peternak lele dan kelompok di GWNPI sebagai pembuat surimi tidak dapat berproduksi. Kedua, masih banyak perajin pengolah ikan yang hasil produksinya cukup baik tetapi belum dikemas dengan baik. Ketiga, keterbatasan peralatan yang tersedia (masih manual) sehingga mutu produk yang dihasilkan kurang baik terutama saat memproduksi dalam jumlah besar. Keempat; pemanfaatan potensi ikan di wiiayah Sumatera Barat belum diiakukan secara optimal. Padahal ini adalah merupakan keunggulan komoditi pangan atau pengolahan ikan Sumbar untuk memenangkan persaingan bisnis dimasa datang. Kelima, kesulitan untuk menembus pasar swalayan karena pembayaran secara konsinyasi bahkan walaupun produk sudah laku terjual tetapi pembayaran terlambat Keenam, belum memiliki showroom di Padang. Pemasaran di wilayah Padang terbatas hanya dititipkan pada toko-toko ternama penjual makanan khas Sumatera Barat seperti Christine Hakim, Sherly dan lainnya sehingga harga jual produk menjadi lebih tinggi. Ketujuh, Keterbatasan modal untuk pengembangan produk maupun investasi, sangat sulit untuk mendapatkan kredit dengan bunga lunak dan penyiapan agunan. (Elly Nirmafa/Boedi Sawitri)

Kamis, 30 September 2010

SERBUK PATIL LELE BIKIN GREEENG...!!!!!

Ingin sehat perkasa tanpa dopping? Tidak perlu repot-repot pergi ke apotik untuk mencari obat-obatan yang tidak mengandung efek samping. Ahli pengobatan tradisional menyarankan cari saja patil lele yang terkenal sangat panas jika mengenai tubuh manusia itu. Konon, khasiat patil lele sangat ampuh meningkatkan keperkasaan lelaki loyo dan kurang bersemangat. Benarkah?

Metodologi pengobatan tradional menyebutkan ikan lele ternyata tidak hanya nikmat disantap sebagai lauk pauk. Lebih itu, jenis ikan berkepala keras ini pada bagian organ tubuhnya memiliki khasiat tergolong ampuh. Patil (taji, red) ikan lele ternyata dipercayai dapat meningkatkan kejantanan lelaki yang kebanyakan membutuhkan tenaga ekstra ini.

Caranya dengan dibuat ramuan yang mirip dengan metode pembuatan jamu. Yakni, tidak dengan dimakan sebagaimana ketika kita menyajikannya sebagai lauk-pauk. Namun, melalui cara menjadikan patil lele sebagai bubuk yang pada pemakainnya bisa diminum dengan cara diseduh menggunakan air hangat. Tentu sangat praktis karena itu bubuk ini tidak beda jauh dengan bubuk jamu tradisional.

Itu pun siapa saja dengan mudah bisa membuat ramuan patil lele ini. Untuk mendapatkan khasiat terbaik, ramuan patil lele bisa ditambahkan kopi bubuk yang diseduh hangat-hangat. Konon, bagi yang pernah merasakan khasiat serbuk patil lele ini, orang akan merasakan kasiat melebihi keampuhan serbuk sirip hiu. Selama ini tentang mitos serbuk sirip ikan hiu memang diakui keampuhannya. Hanya saja karena harganya mahal tidak semua orang bisa menikmati.

Awalnya, khasiat patil lele untuk mendongkrak kejantanan lelaki ini ditemukan oleh Sabhu Suryoadmodjo, salah seorang ahli pengobatan tradisional yang membuka praktik di Jakarta. Ketika itu ia tertarik mengamati khasiat patil lele. Ia percaya kandungan yang terdapat dalam patil lele tak kalah dengan sirip ikan hiu. Kemudian ramuan temuannnya ini dia sebut dengan nama kopi patil lele.

Cara membuat ramuan patil lele sebagaimana tips Sabhu, pertama kali carilah patil lele secukupnya. Sebisa mungkin cari ikan lele hitam (tanggapan alam, red). Pasalnya, khasiat patil lele liar lebih manjur dibanding lele ternakan. Setelah itu, patil tersebut digoreng sangan (digoreng dengan menggunakan wajan yang terbuat dari tanah tanpa menggunakan minyak, red) sampai kering. Lalu tumbuk sampai halus.

Ambil satu sendok teh bubuk tersebut, kemudian campur dengan kopi dan gula sesuai selera. Setelah semua tersedia, tuangkan air panas sebanyak 250 cc ke dalam gelas. Aduk hingga rata. Barulah dalam sekejab kopi serbuk patil lele siap untuk diminum. Bila Anda kurang menyukai kopi atau tidak diperbolehkan minum kopi karena alasan kesehatan, kopi bisa diganti dengan wedang jahe.

Setelah minum kopi patil lele, tunggu sesaat sampai ada reaksi. Bila reaksi sudah terlihat segeralah menjalankan ‘tugas’ rutin yang menjadi kewajiban suami istri. Niscaya, istri Anda yang semula meragukan tak lagi menyesalkan kejantanan Anda. Malah, ia akan ketagihan pada keperkasaan Anda. Mungkin ramuan tradisional itu bisa menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi problem seksual. Siapa tahu dengan biaya yang super murah ini, kejantanan Anda kembali pulih. Selamat mencoba! (ais/*)

Sumber : http://misterionline.com/26/03/2008/serbuk-patil-lele-bikin-greng.misterionline.com/

Minggu, 20 Juni 2010

Dana Rp.5 Milyar disiapkan untuk genjot produksi lele

Kementrian Kelautan dan Perikanan menganggarkan Rp.5 miliar untuk paket wirausaha pemula khusus lele pada 2011.
Dirjen Perikanan Budidaya Kementrian Kelautan dan Perikanan (KemKP) Made L. Nurdjana menyatakan produksi lele di dalam negeri akan ditingkatkan pada tahun depan.
"(Peningkatan produksi) Ini terkait dengan konsumsi lele yang semakin meningkat. Pemerintah dalam hal ini Ditjen Perikanan Budidaya akan menganggarkan dana Rp.5 miliar," ujarnya ketika di hubungi Bisnis kemarin.
Made menyatakan masalah pendanaan ini nantinya mendapatkan dukungan dari Ditjen Pemasaran dan Pengolahan Hasil Perikanan (P2HP). P2HP juga akan mengeluarkan anggaran untuk investasi teknik pengolahan lele di sejumlah sentra minapolitan lele.
Dia mengatakan saat ini ditetapkan lima lokasi pembangunan pengembangan minapolitan lele yakni : Bogor, Boyolali, Pacitan, Gunung Kidul, dan Blitar. Dengan pengembangan minapolitan lele ini, katanya diharapkan dapat memproduksi lebih kurang 30 ton per hari.

GUNUNG KIDUL
Made menyatakan lima lokasi tersebut memproduksi lele yang sangat besar, tetapi yang paling tinggi tingkat produksinya di Gunung Kidul yang mencapai 5 ton per hari.
Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad mengatakan empat hal akan dilakukan KemKP untuk menggalakkan produksi hingga konsumsi lele,

Pertama, mengupayakan menggiatkan budidaya lele skala kecil hingga menengah yang disebar di beberapa sentra utama.
Kedua, mengupayakan agar memasyarakatkan lele sehingga konsumsi meningkat.
Ketiga, KemKP mengupayakan yakni mengembangkan industri atau pengolahan lele.
Keempat, menjadikan lele sebagai sumber pangan yang merambah ke berbagai kalangan.

"Selama ini lele lebih banyak dinikmati masyarakat kelas bawah. Kami akan buat lele juga menjadi konsumsi masyarakat menengah atas." ujarnya di sela-sela pembukaan Festival Lele 2010 akhir pekan lalu.
Dirjen P2HP Martani Husaini menyatakan komoditas lele dapat diolah menjadi bahan makanan apapun.
"Sangant banyak ragamnya. Untuk lele kami fokuskan untuk konsumsi di dalam negeri. Mengingat permintaan di dalam negeri sangat tinggi, sementara produksi belum mencukupi untuk pangsa pasar di luar negeri," ujarnya.
Dirjen menilai produk lele Tanah Air saat ini belum dapat bersaing dengan produk dari Vietnam. Adapun, kendala paling utama adalah tingginya harga pakan yang membuat harga jual lele lokal menjadi sangat tinggi.
Saat ini Ditjen Perikanan Budidaya sedang berupaya menggunakan maggot sebagai makanan lele sehingga dapat menurunkan komponen biaya pakan yang mencapai 60% dari total produksi. (sumber Bisnis Indonesia senin 21/06/2010)

Jumat, 04 Juni 2010

Pecel Lele yang Berani Modern



Logonya mengingatkan kita pada logo Starbucks. Desain ruangnya dikuasai warna hijau dengan penataan yang modern. Jika masuk ke dalamnya tak akan terasa masuk ke gerai penjual pecel lele. Mungkin berasa masuk ke gerai fastfood internasional. Tataan lampunya juga mewah. Pantas jika sejumlah artis pernah menyambanginya menyantap pecel lele di sana. O, ya, pecel lele ini juga ikut mensponsori kegiatan semacam Java Jazz Festival beberapa waktu lalu yang menunjukkan bahwa promosi bukan pantangan, satu tanda pengelolanya memang menguasai bisnis modern. Dari sini saja tampak bahwa Pecel Lele Lela yang didirikan tahun 2006 berbeda dengan gerai pecel lele biasa. Jadi, siapa bilang gerai pecel lele tak bisa disulap jadi modern. Pantas jika banyak yang ingin bermitra dengan Rangga membuka cabang Pecel Lela Lela lain tempat. (Den Setiawan, den.setiawan@yahoo.co.id

Batam Krisis Ikan Lele

Terbaru / Putut Ariyotejo / Minggu, 21 Maret 2010 17:25

batampos.co.id – Para pemilik warung Sari laut mengeluh, sudah dua minggu belakangan ini mereka kesulitan mendapakan ikan lele di pasar. Aha, mungkin Anda juga merasakan saat hendak membeli di pasar bukan?!

Bagi ibu rumah tangga ketiadaan ikan lele hanya membuat kecewa karena menu kesukaan tidak terhidang tapi ada gantinya, menu lain yang tak kalah membangkitkan selera.

Kondisi ini lain bagi para pemilik warung itu, lele adalah salah satu menu andalan yang dijajakan. Ketiadaan lele di pasar tentu membuat mereka resah karena keuntungan jadi menurun, pelanggan tak bisa disuguhi menu andalan.

Huda salah satunya, pemilih warung sari laut di Simpang Kara ini mengeluh karena setiap pembeli yang bertanya menu lele ia hanya bisa menggelengkan kepala, tidak ada. Biasanya dalam sehari ia membutuhkan lele sebanyak 6-7 kilogram. Satu kilo bisa berisi 6 ekor lele. Ya setidaknya 40 lele setiap hari ia bisa jual.

Keluhan serupa dilontarkan oleh Bang Edhot, pemilik warung serupa di kawasan Windsor. Pemilik nama asli Jamin ini dalam sehari membutuhkan 25 kilogram ikan lele. 150 ekor lele bisa ia jual dalam sehari. Wow...

Pemilik warung yang tak kalah resah adalah Haji Kholil. Ia adalah pemilik warung sari laut Jagad SBY di Nagoya. Pria yang lebih dikenal dengan sebutan Pak Jagad ini dalam sehari membutuhkan 40 – 50 kilogram lele. Kita ambil saja angka moderat, maka ia sanggup menjual 240 porsi menu lele penyet di warungnya.

Coba saja hitunga berapa warung yang menjual menu lele, anggap saja setiap warung butuh 6 kilogram lele. Wow, tak terbayangkan bukan?!. Belum lagi warung Padang dan sebagainya yang juga menyediakan menu lele.

Adakah Anda penggemar menu ikan lele? Kalau iya mungkin Anda merasakan krisis ini. Kholil mengaku krisis ini diakibatkan lele dari Malaysia tidak masuk Batam, sementara pasokan lele dari petani lokal tidak mencukupi kebutuhan pasar.

Kholil, dalam kondisi krisis ini, mengaku masih mendapatkan pasokan lele lokal meski jauh dari kuota biasa, sementara Huda sama sekali tak bisa.

Ada apa dengan pasokan ikan lele di Batam? ***

Kamis, 03 Juni 2010

Sensasi Lele Panggang, Dipadu Bumbu Rujak

Elshinta - Newsroom, Menu makanan dari ikan lele sudah sering terdengar, namun di Situbondo, Jawa Timur, ikan lele justru bukan digoreng melainkan dipanggang dan disajikan dengan paduan bumbu rujak Madura.

Aroma ikan dan sambal yang menyatu menggugah selera para penggemar lele.

Warung lesehan Istana Lele yang berada di Jalan Raya Banyuwangi, Kecamatan Banyuputih, Situbondo, Jawa Timur, adalah warung satu-satunya yang menjual menu utama lele panggang bumbu rujak.

Menurut pengelolanya, Surnadi, meski awalnya hanya coba-coba, namun perpaduan lele panggang bumbu rujak ini justru di luar dugaan banyak diminati.

Para pelanggan juga bebas memilih lele yang akan dipanggang sesuai ukuran dan selera. Cara mengelola menu ini pun sederhana untuk menghilangkan bau amis dan lapisan lendir, ikan lele yang akan diolah terlebih dahulu dibersihkan dan kita beri garam. Selanjutnya ditusuk dengan bambu, seperti layaknya sate.

Sebelum dipanggang terlebih dahulu ikan lele diolesi bumbu rujak yang terbuat dari racikan kacang, bawang putih, bawang merah, cabe serta petis Madura. Aroma lele panggang ini mampu membangkitkan selera dan hal ini diakui para pembeli yang mampir ke warung ini.

Menu ini juga dibandrol cukup murah hanya dengan Rp 19.000,-, pembeli sudah bisa menikmati satu kilogram ikan lele panggang bumbu rujak Madura. (Indosiar/Tommy Iskandar/Dv/Ijs) (doa)

Sambel Goreng Ikan LELE

Fitri Yulianti - Okezone



TAK berlebihan jika makin banyak orang menyadari pentingnya mengonsumsi ikan. Namun, bermanfaat tidaknya berbagai zat gizi yang terkandung dalam ikan, ternyata sangat tergantung pada cara pemilihan dan proses pengolahan. Saat Anda membuat sambal goreng, penambahan berbagai bumbu, seperti kunyit, jahe, dan cabai merah, menghilangkan bau amis ikan dan menambah cita rasanya.

Bahan:
4 ekor ikan lele, lumuri dengan asam jawa dan garam lalu goreng
1 ruas jari lengkuas, memarkan
2 lembar daun salam
½ sdt garam
350 ml santan
½ sdt gula merah
3 buah cabai hijau, iris serong

Bumbu dihaluskan:
6 buah bawang merah
2 siung bawang putih
½ sdt terasi
2 buah cabai merah besar

Cara membuat:
1. Panaskan dua sendok makan minyak, tumis bumbu haluskan hingga harum.
2. Tuangkan santan, masukkan lengkuas, salam, garam, gula merah, dan cabai hijau. Teruskan memasak sampai kuah agak mengental.
3. Masukkan lele goreng, aduk rata, angkat.

Resep disarikan dari buku 25 Resep Sambal Goreng Ikan oleh Dapur Kirana
(ftr)